Selasa, 28 Juni 2011
Catatan:
Salah Paham
Ketika ana melihat beberapa teman ana brtengkar krna masalah yg cukup simple diselesaikan. Insya Allah saya akan kutip beberapa status dan komntar teman2 ana :
Status: so oke jga mw hargain agama orng lain, liat dlu agamamu sndri sdh becus ato blm, sdh baik ato blm . . <Idruzt Putra BuTon>
Komentar :
  1. Bajingan kamu itu nda pluralis drus pemikiranmu itu sempit kaya anak teka ,ini indonesia drus goblok coba misalkan kamu itu kaum minoritas seperti agama lain dan kamu cuma sendiri pas kamu ngerayain hari besar sendiri dan ngga ada yang silaturahmi kerumahmu pasti nda enak kan rasanya nda selamanya berbeda itu salah mangkanya hargai perbedaan karena indonesia hidup dari sebuah perbedan Adji Purba Atmajendra
  2. 2.       yg q bhas twh slh menghargai bkn perbedaan, sya tw jga indonesia twh berbeda2 tp islam twh da syariatx jga . , gk asal ja . ! ngucapin bleh tp klo qm sling mengikuti sma aja dgn kaum kafir . . Idruzt Putra BuTon 
  3. Ngga ada drus di al-quran kalo kita dilarang bersilaturahmi ke orang yang agamanya berbeda nabi muhamad saw aja nda ngajarin kaya gitu yang kafir itu kamu sama pemikiranmu ikut fpi aja kamu ormas pembela agama garis keras yang tak tau arti pluralism Adji Purba Atmajendra
  4. 4.       ya tw smua itwh . , y tp klo mw silaturahmi knapa hrzt skrng2 ne . ? knapa gk tgl2 lain gtwh . ? knapa jga qm twh gk bersilaturahmi ke saudara muslim qta dlu . ! qta twh klo mw membgn ukhuwah qta bgn ke yg sesama muslim dahulu ke dlm agama qta dlu . ! yg intern ja blm qm mw yg ektern . ! Idruzt Putra BuTon
  5. Kan sudah pas lebaran Adji Purba Atmajendra
  6. Ku tambahin nih aku tadi baru nanya sama orang muslim feminis follow ni orangnya @gunturRomli dia bilang hadis silaturahmi itu berlaku umum tidak pandang agama tanggal usia ras suku etnis bangsa bahasa budaya ideologi kafir atheis konghucu islam nasrani hindu buddha yahudi animisme ! Adji Purba Atmajendra
  7. 7.       kalian berdua klahi berdebat saling menghina gara2 agama lain. sharusnya kalian klahi dan debat demi kpentingan jihad Islam. mereka sneng klo kalian klahi kayak gni.

udahlah. stop. nda usah klahi lagi.
idrus jangan terlalu fanatik. adjie jangan terlalu pluralisme. Rifaldi Panji Saputra
  1. btl jga ktax rifaldi qta ne saudara semuslim . ! sebaiknya jgn slng berperang, shrusx yg qta perangi twh orng nasrani dan kaum kafir . . Idruzt Putra BuTon
  2. Kamu salah drus yang kita harus perangi itu terorisme yang menganut islam garis keras yang tidak tahu jihad yang sebenarnya jihad itu untuk ihtijad bukan melawan umat beragama lain kecuali mereka bertujuan buruk untuk umat kita memangnya nanti di hari kiamat hanya umat muslim yang boleh dibantu Adji Purba Atmajendra
  3. @idrus: sip hehe
@adjie: btul ji ktamu. tpi nasrani dan kafir gk akan prnah puas smpe kita kluar dri agama kita ada ayatnya di alquran ji. surat al-baqarah. aku lupa ayat brapa. kmu cari sendiri. jgn terlalu nganggap pendapatmu itu paling benar sendiri.  Rifaldi Panji Saputra
  1. @ adji : sbenrx mreka twh tujuanx sma kya qta ingin memerangi orng kafir dan kaum nasrani yaitu sebagai musuh islam, cma crax mreka ja yg slh, udh gtwh mreka mrasa bhwa mreka yg plng suci d mta Allah . .
@ rifaldi : btl qm . . Idruzt Putra BuTon
Untuk lebih lanjut silahkan lihat http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=117436984992904&id=1480152751
Pertama : Ana katakan bahwa sesungguhnya islam adalah agama yg menghormati kegiatan  ibadah agama lain . dan islam dilarang untuk menggangu jalannya kegiatan ibadah tersebut.Dan islam tidak melarang umat islam ntuk bermuamalah (berhubungan social) dng agama lain (kaum kafir ) asal bukan berhubungan dng akidah:
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. ( QS. Al Mumtahanah:8)
Syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Makna ayat ini: orang-orang kafir yang tidak mengganggu dan memerangi kaum muslimin, serta tidak mengusir kaum muslimin dari negeri mereka, maka kaum muslimin membalas (kebaikan mereka) itu dengan balasan yang sesuai, (yaitu) dengan berbuat baik dan adil dalam urusan dunia, akan tetapi dalam hati kaum muslimin tidak boleh mencintai mereka. Karena (dalam ayat ini) Allah membolehkan berbuat baik (dalam urusan dunia) dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) tersebut”, dan Dia tidak mengatakan (bolehnya) mencintai dan bersikap loyal kepada mereka.
Semakna dengan ini, firman Allah Ta’ala tentang kedua orang tua yang kafir:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku” (QS Luqmaan:15).

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asma radhiyallahu ‘anha ketika ibunya yang kafir datang kepadanya, “Sambunglah (hubungan kekeluargaan) dengan ibumu“[3].

Maka menyambung hubungan keluarga dan balasan (kebaikan) duniawi tidak sama dengan mencintai dan bersikap loyal.

Karena menyambung hubung keluarga dan pergaulan yang baik merupakan daya tarik bagi orang-orang kafir untuk masuk Islam, maka ini termasuk cara untuk mendakwahi mereka. Berbeda dengan sikap loyal dan cinta yang menunjukkan pembenaran dan keridhaan terhadap perbuatan mereka, yang ini justru merupakan sebab untuk tidak mendakwahi/mengajak mereka untuk masuk Islam.

Demikian pula keharaman bersikap loyal kepada orang-orang kafir tidak berarti diharamkannya menjalin hubungan dengan mereka dalam urusan perdagangan yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, import barang-barang dan hasil industri (mereka) yang bermanfaat, serta mengambil manfaat dari pengalaman dan penemuan-penemuan mereka.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyewa Ibnu Uraiqith al-Laitsi sebagai penunjuk jalan, padahal dia orang kafir. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berhutang kepada seorang (yang beragama) yahudi.

Dari dulu sampai sekarang kaum muslimin mengimport barang-barang dan hasil idustri dari orang-orang kafir. Kita membeli barang-barang tersebut dari mereka dengan membayar harganya, sehingga sama sekali tidak ada jasa dan kebaikan mereka untuk kita (dalam masalah ini).

Syaikh Abdul Muhsin al-Qasim ketika menjelaskan masalah ini, beliau berkata, “Meskipun (kita wajib) membenci dan memusuhi mereka, serta berlepas diri dari sembahan-sembahan mereka (selain Allah), akan tetapi (agama) Islam mengharamkan (umatnya) membunuh orang kafir yang terjaga (jiwanya), yaitu orang kafir dzimmi, mu’aahad, dan musta’man, dan Islam melarang (kita) merampas harta, menganiaya, atau melampaui batas terhadap mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh (orang kafir) mu’aahad maka dia tidak akan mencium wanginya surga, padahal wanginya bisa tercium dari jarak empat puluh tahun perjalanan“.

Bahkan meskipun membenci mereka, kita wajib mendakwahi mereka ke (jalan) Allah dengan hikmah dan ilmu, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang-orang musyrik.

Agama Islam adalah (agama) yang moderat dalam meyakini sikap al-wala’ dan al-bara’. Islam tidak mengajarkan sikap ekstrim dalam masalah ini dengan membunuh orang-orang kafir yang terjaga (jiwanya). (Sebagaimana Islam juga tidak mengajarkan) sikap terlalu longgar dalam masalah ini dengan bersikap loyal yang diharamkan, atau at-tawalli (kecintaan kepada orang-orang kafir) yang menyebabkan pelakunya keluar/murtad dari agama Islam.

Wajib bagi setiap muslim untuk bersikap adil (moderat) dalam menerapkan ibadah yang agung ini, dan menjauhi sikap ekstrim dan longgar (dalam masalah ini). Hendaknya kita menrapkan semua ini berdasarkan ilmu dan petunjuk dalam syariat Islam (al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)
Kedua: Salah satu cara dan akhlaq kita untuk menjalankan agama ini adalah dengan tidak menggangu, mengolok dan sebagainya kepada kaum kafir yang tidak mengganggu dan memerangi kaum muslimin, serta tidak mengusir kaum muslimin dari negeri mereka, maka kaum muslimin membalas (kebaikan mereka) itu dengan balasan yang sesuai, (yaitu) dengan berbuat baik dan adil dalam urusan dunia, akan tetapi dalam hati kaum muslimin tidak boleh mencintai mereka.
Ketiga: Bagaimana hukumnya berkunjung ke rumah orang kafir/non muslim? Ana dapatkan sebuah artikel tentang hukum berkunjung  ke rumah orang ahli maksiat / kafir:
Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu majlis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta sikap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.
Semua memaklumi bahwa Islam tidak melarang berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman.
“Artinya : Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.
Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma’ binti Abi Bakar Radhiyallahu ‘anhuma yang menanyakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersilaturrahim kepada ibunya yang musyrik. Dalam hadits itu diantaranya disebutkan.
Artinya : Aku bertanya, ‘Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung dengan ibuku ?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. ‘Ya, sambunglah dengan ibumu”.
Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majlis dengan mereka, bersama-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut. Allah berfirman.
“Artinya : Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun rang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka”.
Makna ayat yang mulia ini -sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi- adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.
Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majlis dengan mereka.
Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik : “Saya berkata, ‘Termasuk dalam makna kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi’.
Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata : “Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang , bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat”.

Sebaliknya, silaturrahim dengan mereka adalah dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauh dari Surga. Tetapi, bila kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan cara memutuskan hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan tersebut -dalam kondisi demikian- dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.
Dalam hal ini, Imam Ibnu Abi Jamrah berkata : “Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah adalah silaturrahim dengan mereka. Tapi dengan syarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih membandel. Kemudian, hal itu dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo’akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus.

Ketiga: saya setuju dng perkataan idrus: mngapa kita bersilarturrahim kpd mereka pas saat momen saat hari raya besar mereka. Mengapa tidak sebelum-sebelumnya saja. Itu lebih baik dan lebih terjaga dri fitnah. Dan mengapa kita tidak mengutamakan untuk kaum muslimin saja untuk menyambung tali silaturrahim.
Keempat: Sudah seharusnya kita harus memperbaiki keadaan diri kita sendiri. Bagaimana dengan iman anda hari ini? Bagaimana dengan amalan anda hari ini? Bagaimana dengan shalat anda hari ini? Bagaimana puasa anda hari ini? Bagaimana sedekah anda hari ini? Itu yg hrus kita utamakan. Perbaikilah diri kita dahulu.
Hanya iniyg dpt ana sampaikan. Apabila ada kebenaran itu semua dari Allah SWT. Dan apabila ada kesalahan itu dari diri pribadi ana dan syaitan yg terkutuk.

Sumber: Facebook

1 comments:

ANNAS mengatakan...

Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

Ketika Rasulullah berkunjung ke surga Allah bersama malaikat Jibril, ketika itu Rasulullah mendengar suara yang begitu besar, suara detakan yang membuat beliau bertanya kepada Jibril,"Wahai Jibril, suara siapakah itu?" Malaikat Jibril pun menjawab,"Suara umatmu wahai Rasul Allah". Rasul pun bingung dan bertanya lagi,"Umatku yang bagaimana?" Jibril pun menjawab,"Umatmu yang selalu melangkahkan kakinya ke rumah Allah" Subhanallah.... Anda mau??? FAKTA yang ada: Jarang antara kita bergerak hatinya untuk ke Masjid tuk shalat berjama'ah khususnya para REMAJA yang terlena oleh perasaan dan kesenangan dunia.