Kamis, 31 Maret 2011
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang  pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang  satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh  setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya,  tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama dua  tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa  satu setengah tempayan air ke rumah majikannya.

Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya,karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan  ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan  setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak  itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya  sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."

"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"

"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air  dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi  saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju
rumah majikan kita.

Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu. Si  tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas  kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok,
aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan  dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi  jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf  pada si tukang air atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan  adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga  di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu?

Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu dan aku memanfaatkannya.  Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan  setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi  benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga - bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya  seindah sekarang."

Setiap dari kita memiliki cacad dan kekurangan kita sendiri. Kita  semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan  menggunakan kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan  yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan  kekuranganmu.

Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan  Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan

0 comments:

Ketika Rasulullah berkunjung ke surga Allah bersama malaikat Jibril, ketika itu Rasulullah mendengar suara yang begitu besar, suara detakan yang membuat beliau bertanya kepada Jibril,"Wahai Jibril, suara siapakah itu?" Malaikat Jibril pun menjawab,"Suara umatmu wahai Rasul Allah". Rasul pun bingung dan bertanya lagi,"Umatku yang bagaimana?" Jibril pun menjawab,"Umatmu yang selalu melangkahkan kakinya ke rumah Allah" Subhanallah.... Anda mau??? FAKTA yang ada: Jarang antara kita bergerak hatinya untuk ke Masjid tuk shalat berjama'ah khususnya para REMAJA yang terlena oleh perasaan dan kesenangan dunia.