Jumat, 15 April 2011
"Dan diantara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah..." (QS. Al-Baqarah : 165)

Karakter cinta itu mirip seperti karekteristik iman, yaitu dibuktikan dengan perbuatan. Oleh karenanya sebagai seorang muslim kita harus menunjukkan bukti cinta kita kepada Allah. Bagaimana caranya? Berikut ini akan kita bahas secara singkat.

Cinta itu memang fitrah karena Allah sudah menanamkannya pada jiwa semenjak dia dilahirkan. Namun tentu yang menjadi pertanyaan, apakah cinta itu sudah benar atau belum..? Kemanakah harus kita tujukan rasa cinta itu, apa hanya untuk satu objek atau bisa mencintai banyak hal dalam waktu bersamaan? Lalu seberapa besar porsi cinta yang harus diberikan.


Nah yang pertama, dan menjadi dasar dari semua keyakinan kita. Dalam Islam, kecintaan kepada Allah itu harus diletakkan diatas segalanya, berdasarkan ayat yang telah kita baca diatas. Bukan berarti kita tidak boleh mencintai hal lainnya seperti orang tua, suami, istri, saudara seiman, binatang peliharaan, dsb. Allah tidak melarang itu, namun Allah meminta kita agar kita mampu memanage cinta kita pada hal lainnya agar tidak menerabas dan melangkahi cinta kepada ALLAH.

Bagaimana caranya, ayat berikut akan menjelaskannya, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu itu menghalangimu daripada mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan itu maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun : 9)

Dapat kita simpulkan, bahwa rasa cinta kepada anak dan harta itu sudah alami berada pada diri seseorang dan tidak dilarang. Namun disisi lain, Allah melarang kita untuk melupakan Allah dan melalaikan kita dari ibadah. Lihatlah contoh indah bagaimana Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang rela mengorbankan anaknya Ismail untuk memenuhi perintah Allah, itulah bukti cinta seorang Nabi yang telah digelari dengan khalilullah (kekasih Allah).

Begitu juga dengan Nabi Ismail yang rela mengorbankan nyawanya untuk disembelih (walau rencana itu batal) demi menjalankan perintah Allah. Bukti-bukti cinta seperti inilah yang belum pernah ada bandingannya di dunia ini.

Contoh lainya yang sering kita temui, misalkan pada saat adzan dikumandangkan namun berbarengan dengan penayangan sebuah film yang sangat menarik sekali. Nah, manakah yang akan dikedepankan? Mendatangi masjid untuk shalat berjamaah atau tetap memilih bertahan di depan televisi..? Inilah yang disebut ujian iman, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai ujian cinta.

Contoh lainnya, ketika Allah melarang kita untuk mendekati zina "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah kekejian dan seburuk-buruknya jalan." (QS. Al-Isra : 32)
Namun di sisi lain, pintu itu terbuka untuk kita dengan pacaran misalnya. Bukan hanya zina hakiki berupa hubungan diluar nikah, namun juga berupa zina-zina lainnya yang mungkin terkadang kita lakukan tanpa sadar.

"Zina kedua mata ialah memandang, zina lisan (lidah) ialah mengucapkan, sedangkan jiwa berharap dan berkeinginan dan kemaluanlah yang akan membenarkan atau mendustakan hal itu." (HR. Muslim)

Jadi kesimpulannya, cinta kita kepada Allah akan dibuktikan melalui ujian-ujian ini. Apakah kita mau meloloskan diri kita atau mau membuatnya tereliminasi itu semua terserah kita.

Sekali lagi saya tidak pernah mengatakan bahwa cinta kepada lawan jenis (berkaitan dengan tema pacaran ini) itu dilarang, malah Allah sangat memerintahkan manusia untuk melestarikan rasa cinta ini. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, Allah telah meletakkan cinta itu di dalam pernikahan, bukan pada zina. Itulah yang kita sebut, "Mencintai seseorang karena Allah".

Terakhir sebagai penutup, Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita semua, bila kita memilih untuk berhasil dalam ujian ini, maka Allah telah menyiapkan sebuah hadiah spesial untuk kita semua.

"Ada tiga hal, barang siapa mengamalkannya maka ia dapat menemukan manisnya iman, yaitu orang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain, yang mencintai orang lain hanya karena Allah, dan yang tidak suka kembali ke dalam kekufuran (setelah Allah menyelamatkannya) sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim)

Wallahu a'lam..

Annu'aimy, 12 April 2011
'Asa (Sebuah Harapan)

0 comments:

Ketika Rasulullah berkunjung ke surga Allah bersama malaikat Jibril, ketika itu Rasulullah mendengar suara yang begitu besar, suara detakan yang membuat beliau bertanya kepada Jibril,"Wahai Jibril, suara siapakah itu?" Malaikat Jibril pun menjawab,"Suara umatmu wahai Rasul Allah". Rasul pun bingung dan bertanya lagi,"Umatku yang bagaimana?" Jibril pun menjawab,"Umatmu yang selalu melangkahkan kakinya ke rumah Allah" Subhanallah.... Anda mau??? FAKTA yang ada: Jarang antara kita bergerak hatinya untuk ke Masjid tuk shalat berjama'ah khususnya para REMAJA yang terlena oleh perasaan dan kesenangan dunia.